Ini tuh sebenarnya FF yang dibuat oleh temenku. Dia ngasih FF ini diulang tahunku yang ke-17. Hope you pleased read this... Okasan, Gomaweoh... :)
Tik… Tik… Tik…
Suara detik jam tangan terdengar jelas di telingaku. Lho, kok bisa? Ya bisa dong, telingaku kan ultrasonik gitu, kayak kelelawar. Eh, nggak ding! Aku sengaja menempelkan jam tangan biru mudaku pada telinga. Aku terlihat bodoh, ya?
Jangan salahkan aku karena wajahku tak kunjung berseri. Salahkan saja guru-guru yang nangkring di FO sana. Hampir saja mereka membuatku mati sia-sia karena bete yang menggerogoti waktuku kalau saja tidak ada makhluk tambun yang biasa ku panggil Okasan.
Katanya hari ini akan dilakukan penyerahan siswa prakerin ke dunia industrinya masing-masing. Tapi ini? Sampai matahari ada di atas ubun-ubunku, nyatanya penyerahan itu tak kunjung jadi kenyataan.
“Ada apa sih ini, Okasan?” dengusku kesal.
“Nggak tau. Tapi kayaknya penyerahan itu nggak jadi sekarang deh.”
“Ya, tapi kenapa? Tau begini, lebih baik aku tidur di rumah atau menonton Onew-ku.”
“Ngomong-ngomong soal Onew, ku dengar katanya dia ke Indonesia.” katanya serius.
Aku langsung tertawa sampai mataku menyipit. Tak hanya itu, bahkan mataku sampai berair.
“Pabo sekali Okasan ini. Mana mungkin Onew datang ke Indonesia selain untuk mengunjungiku, dia pasti akan mengabariku dulu.”
“Tapi aku serius.”
“Kau dengar kabar itu dari mana?”
“Justru itu. Aku nggak tau kabar itu datang dari mana. Dari mana, ya? Kau tau?”
Kakiku menendang kerikil hingga kerikil itu beradu dengan gerobak tukang siomay. Si abang siomay hendak melotot, tapi begitu melihatku dia langsung tersenyum. Idih, ngapain sih? Aku kasih tau, ya, Bang, aku ini udah punya suami!
“Neng, jangan godain gerobaknya aja. Mang juga dong.” ujarnya dengan senyum nakal.
Ih, amit-amit. Udah bulukan gitu masih godain anak orang. Inget umur, Bang. Sambil mendelik kesal aku bergegas meninggalkan si abang siomay yang sekarang lagi nyisir kumis baplangnya.
Ya ampun, hari ini panas banget. Harusnya ojeg payung tuh nggak Cuma di musim hujan aja. Di saat-saat genting kayak gini kan perlu. Matahari, kamu geser dikit dong. Disuruh geser malah melototin, kan makin panas. Awan kelabu, ku mohon tutuplah mentari durhaka itu dengan jubah kebesaranmu. Kau juga, kenapa jalannya lelet banget sih?
Aduh, mana lagi angkotnya? Lama banget. Kalau si abang angkot udah ada, bakal aku ceramahin dia: Bang, rezeki tuh jangan ditolak. Kan kasian anak istri abang. Udah tau rezeki itu susah dicari, kenapa nariknya lama?
Angkot belum nongol, sendirian pula nunggunya. Umi, Unni sama Ilin masih sibuk ngurusin UAS susulan. Tiyan, udah dijemput super heronya. Okasan? Pastinya dia udah pulang kampung. Hah, semua ini gara-gara penyerahan itu gagal dilakukan. Ku dengar ada tamu istimewa yang datang ke sekolah sampai-sampai acara sepenting ini yang meyangkut hidup dan mati seluruh siswa kelas sebelas dibatalkan. Tamu penting macam apa, sih?
Aku menoleh ke arah FO. Di sana masih ramai. Aduh, kenapa pandanganku menjadi ada efek blur-nya? Tuh, kan. Kadang jelas, kadang enggak. Kenapa, sih? Aku mengerjapkan mataku. Dan...
Apa aku nggak salah lihat? Onew-kah itu? Aku menggosok-gosok mata. Kalau di sini ada balsem keramat milik Eyangku, aku pasti akan menggosokannya ke mataku biar jadi jreng (sadis banget). Ya, Tuhan, itu benar Onew-ku!
“Onew-ya!” teriakku sambil berlari menghampirinya.
“Nara….” Teriak Onew sambi berlari dengan gaya slow motion.
Jadilah aku dan Onew saling ber-slow motion ria di anatara orang-orang di sekitar kami. Aku nggak peduli matahari, aku nggak peduli angkot yang sudah nangkring, aku nggak peduli orang-orang, aku hanya peduli pada pertemuan dramatis antara aku dan suamiku, Onew.
Kedua tangan Onew terbuka lebar hendak memelukku. Aku memejamkan mata menantinya. Lalu… Plok! Kedua wajah kami menempel manyun pada kaca bening yang bertuliskan: CLONG!
“Clong! Bersih bening seperti tanpa kaca.” Entah dari mana, kalimat itu langsung mengudara.
Ingin sekali aku memecahkan kaca besar yang mengacaukan pertemuan (tepatnya pelukan) kami kalau saja aku tidak melihat senyum Onew-ku yang manis. Tidak. Bukan manis. Tapi sangat manis.
“Annyeong hasimnnika, Nara?” tanya Onew lembut sampai-sampai membuatku ingin pingsan.
“Annyeong, Oppa.” jawabku tanpa melepaskan tatapannya.
“Ini hari yang spesial.
“Jeongmal? Mwo?” tanyaku penasaran.
“Saengil chukahmanida.” jawabnya sambil memberikan setangkai mawar merah yang tak ku ketahui asalnya.
Apa? Mimpikah ini? Kalau ini mimpi, ku mohon jangan bangunkan aku tidur dari tidur ini! Aaaaaaaaah…. Rasanya aku ingin menangis. Dan tanpa paksaan, mataku sudah basah kemudian.
“Uljima…” desah Onew sambil mengusap-usap kepalaku.
Aku menghapus air mata dengan punggung tanganku, tapi aku masih terisak. Bunga dari Onew sudah ku genggam erat-erat. Aku benar-benar nggak mau kehilangan apapun darinya.
“Oppa, entahlah aku harus berkata apa–maksudku, aku senang sekali kau datang ke mari hanya untuk memberikan bunga ini di hari ulang tahunku.”
Onew hanya membalasnya dengan senyuman yang – sumpah, bikin aku lemas.
“Hoi! Onew! Cepat ke mari! Sekarang waktunya foto bersama!” teriak seorang bapak - bapak berkacamata bulat di pintu FO.
“Yeah, sebentar lagi.”
Apa? Apa Onew akan meninggalkanku? Tidak. Ku mohon jangan pergi, Onew. Jika kau lakukan itu, aku bisa mengeringkan mataku karena pasti aku akan menangis setiap hari. Bukankah kau tidak mau kehilangan telaga di mata indahku?
“Kau akan baik-baik saja, kan?” tanya Onew.
“Andwae.”
“Wae?”
“Jangan pergi, Oppa.” Isakku kembali muncul.
“Aku harus pergi.” Onew menggenggam kedua tanganku.
“Geuraeyo?”
“Jaga dirimu baik-baik.
Onew melepaskan genggamannya. Rasanya ada sesuatu yang membetot hatiku untuk keluar. Hatiku terbang mengikuti Onew.
“Oppa…” panggilku pada Onew yang sudah berjalan.
Onewku berbalik. Menatapku dengan tatapan yang berhasil membuat tulangku melolos. Lalu dia memelukku erat. Sangat erat. Aku merasakan kehangatan yang begitu damai. Mataku basah dalam dekapannya. Oppa…
Tik… Tik… Tik…
Suara detik jam tangan terdengar lagi dengan jelas di telingaku. Aku membuka mataku yang rapat. Pantas saja, aku menyimpan kepala di tanganku dan telingaku telah menempel pada jam tanganku.
Onew? Mana Onew? Onew, oddie isseoyo?
Aku melihat sekeliling. Tidak ada Onew di sini. Ternyata aku tertidur di ruang kerjaku. Kemana yang lain? Ah, mungkin mereka sedang jajan di luar. Biarlah. Lalu, Onew? Onew? Kau di mana?
Aku melihat sebuah bungkusan berwarna ungu muda di atas mejaku. Apa itu surat dari Onew? Lalu aku membukanya. Ku baca, ya……
DREAM COMES TRUE (jeongmal?)